Besarnya beban gempa berbeda-beda dari satu wilayah ke wilayah lainnya bergantung dalam keadaan geografis dan geologi setempat. Behan gempa hams diperhitungkan buat daerah-daerah rawan gempa. Analisis gempa dalam bangunan terutama pada bangunan tinggi perlu dilakukan menggunakan pertimbangan keamanan struktur & kenyamanan penghuni bangunan. Behan gempa lateral akan menimbulkan simpangan yang dapat membahayakan. Oleh Karena itu perlu dilakukan kontrol terhadap simpangan ini.

Konsep dasar bangunan tahan gempa secara umum merupakan menjadi berikut:

  1. Bangunan tidak boleh rusak komponen struktural maupun nonstruktural ketika mengalami gempa kecil yang sering terjadi.
  2. Bangunan tidak boleh rusak komponen strukturalnya ketika mengalami gempa sedang yang hanya terjadi sesekali.
  3. Bangunan tidak boleh runtuh ketika mengalami gempa besar yang sangat jarang terjadi.

Tingkat Layanan Bangunan Tahan Gempa

Dalam perencanaan struktur atau bangunan yg mempunyai ketahanan terhadap gempa menggunakan tingkat keamanan yng memadai, struktur hams didesain dapat memikul gaya gempa atau gaya horizontal. Struktur hams mempunyai tingkat layanan dampak gaya gempa yg terdiri menurut:

1. Serviceability

apabila gempa dengan intensitas percepatan tanah yg mini pada ketika ulang yang besar tentang suatu struktur, disyaratkan tidak mengganggu fungsi bangunan misalnya kegiatan normal di pada bangunan & perlengkapan yang terdapat. Dengan Kata lain, nir dibenarkan terjadi kerusakan dalam struktur baik pada komponen struktur juga eleven non-struktur yng terdapat. Dalam perencanaan hams diperhatikan kontrol & batas simpangan (drift) yang terjadi semasa gempa, dan mengklaim kekuatan yang relatif bagi komponen struktur buat menahan gaya gempa yang terjadi & diharapkan struktur masih berperilaku elastik.

Dua Kontrol kerusakan (damage control)

apabila struktur dikenai gempa dengan saat ulang sesuai dengan umur planning bangunan, maka struktur direncanakan buat dapat menahan gempa ringan tanpa terjadi kerusakan pada komponen struktur ataupun non-struktur, & diharapkan struktur masih pada batas kenyal.

Tiga Survival

apabila gempa bertenaga yg mungkin terjadi pada umur rencana bangunan membebani suatu struktur, maka struktur tersebut direncanakan buat dapat bertahan dengan taraf kerusakan yang akbar tanpa mengalami keruntuhan (collapse). Tujuan primer dari keadaan batas ini adalah buat menyelamatkan jiwa manusia.

Sifat Struktur Bangunan Tahan Gempa

Sifat berdasarkan struktur yang menjadi syarat primer perencanaan bangunan tahan gempa adalah menjadi berikut:

1. Kekuatan (strength)

Kekuatan bisa kita artikan menjadi ketahanan menurut struktur atau komponen struktur atau bahan yang digunakan terhadap beban yg membebaninya. Perencanaan kekuatan suatu struktur tergantung dalam maksud & kegunaan struktur tersebut.

2. Daktilitas (ductilia)

Kemampuan suatu struktur gedung buat mengalami simpangan pasca-elastik yang besar secara berulang Kali dan bolak-pulang akibat beban gempa di atas beban gempa yg mengakibatkan terjadinya pelelehan pertama, sambil mempertahankan kekuatan & kekakuan yg relatif, sebagai akibatnya struktur gedung tersebut permanen berdiri, walaupun sudah berada pada kondisi pada ambang keruntuhan.

Tiga. Kekakuan (stqess)

Deformasi dampak gaya lateral perlu dihitung dan dikontrol. Perhitungan yang dilakukan herbi sifat kekakuan. Deformasi dalam struktur ditentukan oleh akbar beban yg bekerja. Hubungan ini merupakan prinsip dasar dari mekanika struktur, yaitu sifat geometri dan modulus elastisitas bahan. Kekakuan mempengaruhi besarnya simpangan dalam waktu terjadi gempa.

Simpangan (arm) dapat diartikan menjadi perpindahan lateral relatif antara 2 taraf bangunan yg berdekatan atau dapat dikatakan simpangan mendatar tiap-tiap tingkat bangunan.

Simpangan lateral menurut suatu sistem struktur dampak beban gempa perlu dilihat buat mengklaim kestabilan struktur, keutuhan secara arsitektural, potensi kerusakan komponen non-struktur, dan ketenangan penghuni gedung dalam saat terjadi gempa. Selain itu, besamya simpangan dibatasi buat mengurangi impak P-delta. Besamya simpangan yg diperbolehkan diatur pada peraturan perencanaan bangunan.

Sistem Struktur Bangunan Tahan Gempa Ada 4 jenis sistem struktur dasar yg ditetapkan dalam peraturan perencanaan gempa Indonesia (SNI 03-1726-2002), yaitu:

1. Sistem dinding penumpu, yaitu sistem struktur yang nir mempunyai rangka ruang pemikul beban gravitasi secara lengkap. Dinding penumpu atau sistem bresing memikul hampir semua beban gravitasi. Behan lateral dipikul dinding geser atau rangka bresing.

2. Sistem rangka gedung, yaitu sistem struktur yg dalam dasamya memililki rangka ruang pemikul beban gravitasi secara lengkap. Behan lateral dipikul dinding geser atau rangka bresing.

Tiga. Sistem rangka pemikul momen, yaitu sistem struktur yg pada dasarnya memililki rangka ruang pemikul beban gravitasi secara lengkap. Behan lateral dipikul rangka pemikul momen terutama melalui prosedur lentur.

4. Sistem ganda, yaitu sistem yg terdiri dari rangka ruang yang memikul semua beban gravitasi, pemikul beban lateral berupa dinding geser atau rangka bresing dengan rangka pemikul momen. Rangka pemikul momen hams direncanakan secara terpisah bisa memikul sekurang-kurangnya 25% dari semua beban lateral, & kedua sistem hams direncanakan buat memikul secara bersama-sama seluruh beban lateral menggunakan memperhatikan hubungan sistem ganda.

Selain 4 sistem struktur dasar tersebut, dalam SNI 03-1726-2002 juga mengenalkan 3 sistem struktur lain, yaitu sistem struktur gedung kolom kantilever (sistem struktur yang memanfaatkan kolom kantilever buat memikul beban lateral), sistem hubungan dinding geser menggunakan rangka, & subsistem tunggal (subsistem struktur bidang yang membentuk struktur gedung secara holistik).

Subscribe to receive free email updates:

Post a Comment

Previous Post Next Post