√ Tepatkah Reklamasi Menjadi Solusi Banjir Jakarta? - Biaya Pendidikan

Tepatkah Reklamasi Menjadi Solusi Banjir Jakarta?

Jakarta  semakin banyak menyita perhatian publik dengan siklus problem tahunannya, banjir Jakarta. Bagi Jakarta, banjir ibarat gejala / efek samping yang ditimbulkan akibat disfungsi ‘organ dalam’ Ibu kota. Payahnya, disfungsi ini kemudian menimbulkan komplikasi pada organ lainnya. Air hujan yang seharusnya tersimpan dalam akuifer tanah, menjadi sapuan air permukaan yang buru-buru dialirkan menuju muara. Sehingga terjadilah krisis air bersih, dimana jumlah cadangan air tanah tidak sesuai dengan kebutuhan dan konsumsinya. Terpaksa, kebutuhan air dipenuhi dengan memompa cadangan air tanah dalam secara besar-besaran. Volume air yang berada di bawah permukaan tergantikan oleh ruang kosong yang mengakibatkan turunnya permukaan tanah di Jakarta secara significant.

Penyebab banjir Jakarta itu, galat satu faktor utamanya yaa lantaran syarat geologi bawah permukaanya. Bukan karena reklamasi. ?

Reklamasi pada prinsipnya bertujuan buat meningkatkan manfaat sumber daya huma dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase. Tentunya, hal ini menjadi angin segar bagi sumpeknya area perkotaan terutama pada tempat strategis pesisir, seperti yg telah diterapkan negara Belanda & tetangga kita, Singapura. Menariknya, konsep reklamasi ini lalu dikembangkan oleh UEA menjadi daya magnet pada sektor industri & pariwisata.

Yang sebagai pertanyaan berikutnya adalah apakah reklamasi merupakan solusi yang sempurna bagi perseteruan yg terdapat pada Jakarta? Meski, dalam prinsipnya konsep reklamasi secara ideal sangat menjanjikan kemajuan taraf kehidupan yang begitu menggiurkan banyak sekali pihak. Tetapi sekali lagi, tepatkah reklamasi menjadi solusi?

Reklamasi bukan sesuatu yang baru bagi negara kita. Pada orde baru reklamasi dilakukan dalam jutaan hektar area pada Sumatra, Kalimatan & Papua Selatan. Tetapi menjadi teramat krusial buat memperhatikan aspek ketataairan di sekitar pembangunan proyek reklamasi. Prinsip 4 S perlu dikelola menggunakan baik supaya reklamasi tak semakin menambah panjang PR Jakarta.

Sungai ? Sungai yang bermuara di teluk Jakarta nir boleh terbendung sang huma reklamasi.

Siklus banjir lima tahunan yang hingga sekarang belum teratasi.

Subsidence yang menyebabkan 40% lahan pada Jakarta bagian utara berada di bawah permukaan laut

Sirkulasi air bahari harus terjamin sebagai akibatnya nir mengganggu ekologi di sekitar area reklamasi

Lantas apakah keempat aspek ini sahih-benar telah terpenuhi sebelum dilaksanakannya proyek reklamasi?

Lahan Reklamasi Merapat ke Daratan

Peta reklamasi teluk Jakarta yg waktu ini sedang dilaksanakan.

Secara ideal antara daratan dan pulau reklamasi setidaknya berjarak 300 meter. Hal ini bertujuan buat memberikan ruang aliran & sedimentasi pada area muara sungai. Seperti yg tampak pada peta di atas, huma reklamasi terlalu merapat ke daratan menggunakan jarak berkisar 100 meter. Merapatnya huma reklamasi mempersempit ruang akomodasi air dan sedimen sehingga lahan reklamasi akan membendung aliran sungai. Terbendungnya aliran sungai akan menaikkan proses sedimentasi dalam daerah muara. Hal ini mengakibatkan semakin meluasnya daerah genangan pada pesisir utara Jakarta. Kawasan ekologi pesisir yang semula sebagai tempat tinggal karang & biota laut akan mangkat lantaran terhambatnya sirkulasi laut yg membawa nutrisi menurut laut tanggal.

Sebenarnya problema ini bisa diantisipasi, dengan membuat perancangan ketataairan secara komprehensif, semisal dengan melakukan pendalaman sungai dan merevitalisasi bendungan pada area hulu.  Dengan catatan, treatment ini seharusnya dilakukan sebelum proyek reklamasi dilaksanakan. Jikalau ini sebelumnya tidak diimplementasikan bisa jadi air di 13 sungai yang bermuara ke teluk Jakarta di kembalikan ke ibu kota.

Subscribe to receive free email updates:

Get notifications from this blog